5 hal tentang film Pantja-Sila: Cita-cita & Realita

Hal-hal yang penonton perlu tahun tentang film dokumenter sejarah, ‘Pantja-Sila: Cita-cita & Realita’ karya Tino Saroengallo dan Tyo Pakusadewo.

Setelah memakan waktu yang tak sebentar, sutradara Tino Saroengallo dan Tyo Pakusadewo akhirnya merilis film dokumneter berjudul Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita pada Kamis, 2 Juni.

Pemutaran perdana berlangsung di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Berikut 5 hal yang kamu harus tahu tentang film yang diluncurkan sehari setelah peringatan Hari Kelahiran Pancasila yang diperingati tiap 1 Juni:

1. Terinspirasi dari pidato Bung Karno

Penggagas film ini, Tyo Pakusadewo, mengaku ingin membuat film ini setelah membaca buku Pedoman Untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakjat, Djilid 1. Di dalam buku itu, termuat salah satu pidato Presiden Soekarno yang berjudul Lahirnya Pancasila.

“Mas Tyo sadar akan pentingnya isi pidato tersebut sebagai salah satu titik awal perjalanan bangsa,” kata sutradara sekaligus produser eksekutif, Tino Saroengallo.

Bung Karno membawakan orasi ini dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai pada 1 Juni 1945. Kelak, hari ini diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila.

Saat itu, Indonesia masih dalam tahap ragu untuk merdeka karena berbagai faktor, termasuk dasar negara yang akan dianut. Bung Karno menjawab kegalauan tersebut dengan menyampaikan lima poin yang kelak menjadi Pancasila.

2. Berisi pidato Bung Karno

Sepanjang film, hanya satu tokoh yang wajahnya terlihat jelas: Bung Karno. Memang sebelum pidato dimulai, sempat ada tampilan cuplikan beberapa tokoh lain seperti Mohammad Yamin (Teuku Rifnu Wikana); Liem Koen Hian (Verdi Soelaiman); Ki Bagus Hadikoesoemo (Jantra Suryaman); dan R. Abikoesno Tjokrosoejoso (Wicaksono Wisnu Legowo). Namun, wajah mereka diburamkan.

“Ini memang mau membuat rekaman audio visual dari pidato yang tidak ada rekamannya itu,” kata Tino.

Selama 79 menit, penonton akan menyaksikan Tyo Pakusadewo yang berperan sebagai Bung Karno membawakan orasi. Di sela-sela, memang ada sahutan dari beberapa tokoh yang sudah disebut di atas, namun tetap wajahnya tak tampak.

3. Anggaran dari ‘crowdfunding’

Kepada Rappler, Tino mengatakan kalau film ini dibawa oleh Tyo kepadanya pada akhir 2014, namun baru mulai digarap sejak Februari 2015.

“Itu juga sempat berhenti karena enggak ada duitnya,” kata sutradara Student Movement Indonesia, sebuah film dokumenter aksi mahasiswa pada Mei 1998 ini.

Beruntung, ia mendapat bantuan dana dari rekannya yang kebetulan bertemu di Bali. Saat itu, si rekan menanyakan apa Tino dan Tyo memang serius mau melanjutkan film ini.

“Saya bilang iya, terus dia nawarin bantu. Meski tidak full, tapi ya dari situ kita lanjutin lagi proyek ini,” kata Tino.

Proses pengumpulan dana ini pun tak berhenti setelah film tayang perdana. Rupanya, Jakarta Media Syndication dan Gepetto Production masih membutuhkan donasi supaya film bisa naik ke layar bioskop.

Pada pemutaran perdana di TIM kemarin pun, tampak kotak donasi bagi yang mau membantu. Tino merencanakan film ini dapat naik bioskop pada 17 Agustus mendatang.

4. Keterlibatan keluarga Soekarno

Pada pemutaran kemarin, hadir pula putra bungsu Bung Karno dari Fatmawati, Guruh Soekarnoputra. Meski Tyo sendiri banyak memahami karakter presiden pertama Indonesia itu lewat buku-bukunya, sesekali ia mendatangi Guruh untuk berkonsultasi.

“Ya, saya suka memberi masukan sedikit tentang Bapak ke Mas Tyo,” kata Guruh kepada Rappler.

Ia sendiri mengaku puas melihat film ini. Film dokumenter sejarah ini diharapkannya dapat menambah daftar arsip nasional tentang pembentukan bangsa. Sebab, isi penuh pidato Bung Karno yang pertama kali menggagas Pancasila ini jarang diketahui.

5. Persepsi terserah penonton

Meski pada sambutan awal Tino menyampaikan kritik dan refleksi Pancasila saat ini, ia mengaku tak punya maksud apapun dalam pembuatan film ini. “Ya, saya cuma menyampaikan apa adanya kelahiran Pancasila,” kata dia.

Mengenai pemahaman dan pandangan penonton terhadap film ini, ia serahkan pada diri masing-masing saja.

“Memang banyak orang yang harus punya maksud atau tujuan tertentu, tapi kalau saya bikin film ini ya tidak ada,” kata dia. Menurut Tino, semua terjadi karena kebetulan dan takdir untuk film Pantja-Sila ini.

Seperti mengapa baru tayang pada 2 Juni, bukan bertepatan pada hari kelahiran yang jatuh sehari sebelumnya?

“Ya, karena kita enggak dapat gedung, baru hari ini dapatnya. Tapi ya, kebetulan, kan?” kata dia.

Sumber: Rappler.com

URL: http://tinyurl.com/gpdhu4a

Pendapatmu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *