Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita Lahir dari Pidato Bung Karno

Tyo Pakusadewo dan Tino Saroengallo kesulitan dalan menggambarkan ulang kejadian bersejarah, yakni saat Bung Karno berpidato.

Sebuah film tentang salah satu peristiwa sejarah berdirinya Republik Indonesia akan dirilis di bioskop Tanah Air. Film semi-dokumenter Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita produksi Jakarta Media Syndication dan Geppeto Production ini menghadirkan proses lahirnya dasar negara Republik Indonesia, Pancasila, dengan cara merekonstruksi pidato Ir. Soekarno sebelum menjadi presiden di depan peserta sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Tyo Pakusadewo, aktor pemenang Piala Citra, mengemban tugas untuk menghidupkan kembali pidato tersebut sebagai Soekarno dalam film Pantja-Sila ini. Selain berakting, Tyo juga bertindak sebagai sutradara bersama Tino Saroengallo, yang juga memproduseri film ini.

“Ide awal film ini datang dari Tyo yang tertarik sekali dengan membaca isi pidato Soekarno kala itu. Kami rembukan sambil ngopi-ngopi dan menemukan banyak hal menarik, terutama dengan perkembangan Pancasila itu sendiri,” papar Tino saat ditemui Muvila di konferensi Pers di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada 2 Juni lalu.

Dengan durasi sepanjang 79 menit, penonton Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita akan kembali mendengarkan dan menyaksikan pidato Soekarno, yang diperankan Tyo Pakusadewo, begitu menggelora dalam menyampaikan gagasan luhurnya tentang dasar negara Pancasila.

“Keistimewaan banget. Dari dulu saya memang mengidolakan Soekarno. Saya banyak membaca buku tentang Soekarno dan saya tergugah dengan pidato yang satu ini. Sebelum menjadi preseiden, banyak pemikiran beliau yang belum diketahui masyarakat luas,” ujar Tyo tentang aktingnya sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama itu.

Dalam proses pembuatan Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita, Tyo dan Tino mengaku mengalami kesulitan untuk menggambarkan ulang kejadian bersejarah tersebut. Sebab, mereka tidak mampu menemukan arsip dan referensi sejarah yang sesuai.

“Tidak ada arsip atau rekaman dari pidato Bung Karno tentang lahirnya Pancasila ini, banyaknya PPKI. Kalau BPUPKI nggak ada, jadi referensi tunggal kami ialah materi naskah atau teks pidato itu saja. Kita harus mampu menampilkan arwah pidato itu hanya berdasar dari naskah tersebut,” ujar Tino.

Dalam film ini, Tino mengaku ingin memperlihatkan karisma dan semangat juang Soekarno yang terpancar bukan hanya ketika menjadi presiden saja, tetapi ketika sebelum menjadi Presiden RI.

“Anda bisa lihat di film ini bahwa pidato Soekarno tentang Pancasila ini murni pemikirannya sebagai cendekia, bukan sebagai negarawan, apalagi presiden. Karisma beliau luar biasa sekali,” ujarnya lagi.

Film Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita ini juga diharapkan dapat sukses dalam merekonstruksi ulang pidato Soekarno tersebut. Mendukung harapan itu, Teuku Rifnu Wikana, yang berperan sebagai Muhammad Yamin, berharap Pantja-Sila: Cita-cita & Realita bisa memuaskan dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia.

“Pidato Bung Karno selalu divisualkan dalam bentuk panggung, seperti monolog. Tapi kami ingin semangat itu hadir dalam bentuk audiovisual. Film kan banyak yang nonton, apalagi kalau belajar melalui film, pasti akan banyak masyarakat kita yang lebih tertarik nonton ketimbang baca buku,” kata Teuku Rifnu saat jumpa pers.

Film Pantja-Sila: Cita-cita & Realita ini telah diputar perdana di auditorium Teater Jakarta pada 2 Juni 2016 dalam rangka memperingati Hari Kelahiran Pancasila, dan akan dirilis serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 17 Agustus 2016.

Penulis: Bardjan T
Sumber: Muvila.com

URL: http://tinyurl.com/zb7jky7

Pendapatmu?

One thought on “Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita Lahir dari Pidato Bung Karno

  1. saya kalau mau kasih masukan buat om tyo tentang peran menjadi Bung Karno bisa hubungi kemana ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *