Memahami ulang Pancasila dari tangan pertama – Totot Indrarto

Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia ikut dirayakan di 20 layar bioskop 14 kota dengan penayangan film Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita.

Dokumenter karya kolaborasi Tino Saroengallo dan Tyo Pakusadewo ini merupakan rekonstruksi pidato penting Presiden Soekarno, dua setengah bulan sebelum proklamasi, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pada hari ketiga sidang yang berlangsung 29 Mei-1 Juni 1945 di gedung Chuo Sangi In (sebelumnya gedung Volksraad, kini menjadi Gedung Pancasila) di bagian muka Kementeriaan Luar Negeri, Jalan Pejambon 6, Jakarta Pusat, Soekarno mendapat giliran menjawab pertanyaan singkat Ketua BPUPKI Dr KRT Radjiman Wedyodiningrat, “Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?”

Berbicara tanpa teks, dengan narasi dan cara penyampaian yang memukau, pada seperempat bagian pertama Soekarno mencoba meyakinkan hadirin, tiada keraguan sedikit pun bahwa Indonesia sudah siap merdeka. Menurutnya, syarat untuk merdeka adalah adanya bumi, rakyat, dan pemerintahan yang teguh. Hal-hal lain bisa menyusul.

“Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan hati bangsa kita!” kobarnya.

Kemerdekaan adalah jembatan. “Di seberang jembatan emas inilah baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal, dan abadi.”

Selanjutnya Soekarno mengemukakan lima prinsip gagasannya mengenai dasar filosofi “di atas mana kita mendirikan negara Indonesia merdeka itu.” Lima prinsip yang diusulkan Soekarno ialah: kebangsaan Indonesia, internasionalisme (atau perikemanusiaan), mufakat (atau demokrasi), kesejahteraan sosial, dan ketuhanan.

“Dasar-dasar negara telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedangkan kita membicarakan dasar. […] Saya namakan ini, dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (maksudnya Muhammad Yamin), namanya ialah Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Usulan Soekarno diterima aklamasi oleh semua anggota BPUPKI. Selanjutnya pada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), 18 Agustus 1945, Pancasila disahkan sebagai dasar negara Indonesia dan dicantumkan dalam Mukadimah UUD 45.

Rumusan dan urutannya sedikit berubah menjadi, “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Tarpaut 71 tahun, 1 Juni 2016, Presiden Joko Widodo baru menerbitkan keputusan presiden (Keppres) yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Sebelumnya, dasar negara kita itu diperingati setiap 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, yang menandai keberhasilan TNI AD menumpas pemberontakan G30SPKI yang konon ingin mengubah Pancasila dengan ideologi komunis.

Entah kenapa, tidak ada rekaman audio visual pidato bersejarah tersebut. Padahal ketika itu ada Nippon Eiga Sha, perusahaan film pemerintahan pendudukan Jepang, yang setelah Indonesia merdeka diambil alih menjadi Berita Film Indonesia (BFI) dan tahun 1950 berubah menjadi Perusahaan Pilem Negara (PPN).

“Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu weltanschauung,” Soekarno mengingatkan. Hitler mendirikan Jerman (Nazi) di atas nasional-sosialisme, Lenin di Soviet dengan marxisme, Jepang memiliki Tennoo Koodoo Seishin, dan Saudi Arabria berlandaskan Islam.

Film Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita adalah reka-ulang pidato tanpa teks Soekarno saat pertama kali menggagas Pancasila. Tyo Pakusadewo –barangkali aktor terbaik kita saat ini– menghidupkan gagasan Soekarno perihal makna kemerdekaan dan lima prinsip yang disebutnya weltanschauung (pedoman hidup), atau ideologi, yaitu keyakinan-keyakinanan filosofis sebagai landasan berdirinya Indonesia merdeka.

Melalui pidato-pidatonya yang penuh semangat, visioner, dan inspiratif, Soekarno selalu mampu menyihir massa denga kata-kata. Pada masanya, jutaan rakyat di penjuru negeri serentak menghentikan aktivitasnya hanya untuk mendengar atau menonton Soekarno berpidato.

Daya sihir itu memang berpusat pada kata-kata. Mulai dari pemilihan diksi, struktur kalimat atau sintaksis, ritme, intonasi, artikulasi, pengulang-ulangan, hingga persepsi citra dan kekuatan makna yang terkandung di dalamnya. Pembuat film ini sepenuhnya menyadari hal itu. “Dalam film Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita tokoh utamanya bukan Soekarno, tetapi pidatonya,” terang Tyo.

Dan ia dengan cemerlang berhasil menyelinapkan kemegahan jiwa dan gelora besar Soekarno ke dalam setiap kata dalam transkrip pidato tanpa teks itu. Pemeranan Tyo dan treatment sutradara atas karakter Soekarno seperti sengaja “dikecilkan”, mungkin supaya tidak jadi lebih menonjol.

Di luar akting dan busana yang (mau tidak mau harus) mirip Soekarno, Tyo sendiri tidak berusaha dipermak jadi lebih muda (seusia Soekarno pada 1945), dengan pembingkaian dan sudut pengambilan gambar netral atau objektif.

Praktis kekuatan pengadeganan dan drama film ini–sejalan konsepnya yang menempatkan pidato sebagai tokoh utama–seluruhnya bertumpu pada pidato Soekarno. Dan itu sangat memadai, karena semua pidato Soekarno memang selalu dramatis.

Sebagaimana subjudulnya–Cita-cita dan Realita–pidato sepanjang sekitar 70 menit itu diselingi visualiasi buat melukiskan ironi atau kontradiksi antara cita-cita yang diucapkan Soekarno dengan berbagai realitas mutakhir penanda semakin jauhnya kehidupan kita dari idealisasi tersebut. Bagian itu, sayangnya, menjadi titik lemah film ini.

Sisipan “pas foto” para pelaku sejarah dan potongan-potongan adegan kekerasan tidak “pancasilais” –sebut saja begitu– yang disunting sekadarnya di tengah pidato, terasa banal dan menyebabkan film kehilangan keutuhan. Pembuat film terlihat tidak memiliki konsep sinematik yang matang dan bisa menjadi solusi dari problem inkonsistensi dan inkoherensi visual yang dihadapi.

Kendati demikian, di saat kehidupan bernegara kita sedang dilanda berbagai penyakit sosial-budaya akibat absennya ideologi dan perasaan kebersamaaan, Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita menjadi film penting dan istimewa.

Pertama, buat mengingatkan kembali gairah dan mimpi besar bangsa kita menjadi negara berdaulat 71 tahun lampau. Sebuah imajinasi bersama yang semakin hari semakin luntur dari jiwa bangsa ini.

Kedua, untuk memahami ulang pedoman hidup bersama bangsa kita langsung dari tangan pertama. Menyimak penjelasan dan argumentasi Soekarno mengenai hakikat Pancasila –yang selama puluhan tahun terakhir dianggap usang akibat interpretasi sepihak penguasa buat melanggengkan kekuasan– terasa sangat menyegarkan sekaligus mengilhami.

Setidaknya membuat saya kembali percaya, Pancasila tetap harus menjadi rujukan dan keyakinan bersama, yang dapat menyelesaikan pelbagai persoalan kenegaraan dan kebangsaan kita di hari-hari ini.

Periode yang barangkali akan menjadi salah satu babak gelap dalam sejarah Indonesia karena semakin merajalelanya sikap-perilaku antidemokrasi, intoleran, dan gelombang partisan, yang setiap tempo bisa memicu konflik horizontal serta ancaman perpecahan.

Totot Indrarto adalah kurator seni, aktif di Dewan Kesenian Jakarta.

URL: http://tinyurl.com/jlmshvy

Pendapatmu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *